Pendekatan Konstruktivisme
1. pengertian Pendekatan Konstruktivisme
Konstruktivisme sosial berasal dari Vygotsky. Asumsi Vygotsky dalam Suprijono adalah bahasa merupakan aspek sosial. Menurutnya pembicaraan egosentrik merupakan permulaan dari pembentukan inner speech( kemampuan bicara yang pokok) yang akan digunakan sebagai alat dalam berfikir.[1] Menurut Vygotsky, inner speech berperan dalam pembentukan pengertian spontan. Pengertian spontan mempunyai dua segi suatu pengertian dalam dirinya sendiri dan pengertian untuk orang lain. Pengertian yang terakhir ini menjelaskan pengertian yang diletakkan dalam pembicaraan untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain.
Dalam proses belajar terjadi perkembangan dari pengertian spontan ke ilmiah. Menurut Vygotsky pengertian ilmiah tidak datang dalam bentuk yang jadi pada seorang anak. Pengertian ini mengalami perkembangan. Ini tergantung pada tingkat kemampuan anak untuk saling berelasi dan saling mempengaruhi.
Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam pengalaman baru. Menurut Piaget dalam Trianto, manusia memiliki struktur dalam otaknya, seperti sebuah kotak–kotak yang masing–masing mempunyai makna yang berbeda–beda. Pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing–masing individu dan disimpan di dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak–kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia.[2] Oleh karena itu, pada saat manusia belajar, menurut Piaget, sebenarnya telah terjadi dua proses dalam dirinya, yaitu proses organisasi informasi dan proses adaptasi.
Proses organisasi adalah proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur–struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses organisasi inilah, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilkinya, sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasi informasi atau pengetahuan tersebut. sedangkan proses adaptasi adalah proses yang berisikan dua kegiatan. Pertama, menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia atau disebut dengan asimilasi. Kedua, mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan yang baru, sehingga akan terjadi keseimbangan.
Pendekatan belajar konstruktivisme memiliki beberapa strategi dalam proses belajar. Strategi–strategi dalam belajar menurut Slavin dalam Baharudin dan Wahyuni, adalah:
1. Top-down Processing. Dalam pembelajaran konstruktivisme, siswa belajar dimulai dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan, kemudian menghasilkan atau menemukan keterampilan yang dibutuhkan, 2). Cooperative Learning, yaitu strategi yang digunakan untuk proses belajar, dimana siswa akan lebih mudah menemukan secara komperhensif konsep–konsep yang sulit jika mereka mendiskusikannya dengan siswa lain tentang masalah yang dihadapi.3). Generative Learning, strategi ini menekankan pada adanya integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuanyang baru diperoleh dengan skemata.. [3]
Menurut teori ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberi pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide–ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka untuk belajar.
2. Penerapan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pendidikan IPS di SD
Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran konstruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Sebagian waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa.
Dalam pembelajaran IPS di SD pendekatan konstruktivisme dapat dilakukan pada semua topic dan pokok bahasan. Namun demikian, ketika guru menggunakan pendekatan ini, mereka dapat membahas dan mengkaji topic yang dimunculkan oleh guru dan siswa saat kegiatan berlangsung. Artinya, materi yang dibahas di kelas tidak harus selalu sama dengan apa yang direncanakan guru dalam rencana pelajaran atau program–program lainnya yang telah disusun sebelumnya.
Pendekatan konstruktivis dapat digunakan oleh guru IPS dalam mengembangkan materi ajar di kelas. Selama ini, penggajaran IPS di sekolah masih menggunakan pendekatan tradisional seperti ceramah dan lebih menekankan pada aspek kognitif dan mengabaikan keterampilan–keterampilan sosial. Konsekuensi dari metode tersebut adalah siswa merasa bosan terhadap materi pelajaran IPS dan dalam jangka panjang, tentu saja akan terjadi penurunan kualitas pembelajaran itu sendiri.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide–ide. Kegiatan yang dilaksanakan adalah dengan cara membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok bertugas untuk mengumpulkan data tentang penggunaan uang. Jadi pada kegiatan ini siswa ditugaskan untuk menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber dan media pembelajaran. Misalkan kelompok pertama mengumpulkan data di kantin, kelompok dua di pasar, dan seterusnya. Jadi kesimpulannya, kegiatan ini akan membangun kerjasama dan keaktifan siswa dalam mencari sendiri apa itu kegunaan uang dalam kehidupan sehari–hari.
Dalam pandangan Brook and Brook dalam Supriatna, dkk pendekatan konstruktivisme mengharuskan guru–guru IPS untuk melakukan Hal–hal berikut ini :
1). Mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa dalam mengembangkan materi pembelajaran, 2). Menggunakan data mentah dan sumber utama ( primary resources ), untuk dikembangkan dan didiskusikan bersama–sama dengan siswa di kelas, 3). Memberikan tugas kepada siswa untuk mengembangkan klasifikasi, analisis, melakukan prediksi terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari–hari, dan menciptakan konsep–konsep baru, 4). Bersifat fleksibel terhadap response dan interpretasi siswa dalam masalah–masalah sosial, bersedia mengubah strategi pembelajaran yang tergantung pada minat siswa, serta mengubah isi pelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, 5). Memfasilitasi siswa unruk memahami konsep sambil mengembangkannya melalui dialog dengan siswa, 6). Mengembangkan dialog antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan rekan–rekannya, 7). Menghindari penggunaan alat tes untuk mengukur keberhasilan siswa, 8). Mendorong siswa untuk membuat analisis dan elaborasi terhadap masalah–masalah kontroversial yang dihadapinya, 9). Memberi peluang kepada siswa untuk berfikir mengenai masalah yang dihadapi siswa dan 10). Memberi peluang kepada siswa untuk membangun jaringan konsep serta membentuk methapora.[4]
Dengan demikian, dalam mengevaluasi keberhasilan belajar model konstruktivis dalam pendidikan IPS di SD, proses belajar nampaknya lebih penting daripada hasil. Guru IPS yang melakukan evaluasi belajar dengan menggunakan konstruktivisme harus mampu mencatat keterampilan–keterampilan yang dikembangkan dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan–kemampuan dalam mengumpulkan informasi atau data untuk dirinya serta mengkomunikasikan hasil untuk berbagai keperluan harus dapat dikembangkan dan dievaluasi dalam pengajaran IPS yang bersifat konstruktivistik.
3. Peran Guru dalam Pendekatan Konstruktivisme
Seperti yang telah kita ketahui, proses belajar mengajar selama ini guru masih belum menguasai cara–cara mengajar dengan menggunakan strategi belajar yang baik, sehingga siswa hanya sekedar meniru dan menghapal setiap materi yang diberikan. Dengan demikian siswa tidak menjadi aktif dan tidak dapat berfikir kritis terhadap materi.
Dalam pendekatan konstruktivisme menurut Trianto, guru berperan sebagai ; 1). Menjadikan pengetahuan bermakna bagi siswa, 2). Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan 3). Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.[5]
Dalam kelas konstruktivisme, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Artinya guru hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar